posted by on Pidato

14,102 comments

Pidato Pengukuhan Drs. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. sebagai Guru Besar dalam Bidang Linguistik pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia, 21 Oktober 2008

Pidato ini kupersembahkan kepada Ema jeung Bapa

yang mengajariku berbahasa dan berpikir

Jazakumullaahu khairan katsiiran.

|| Read more

posted by on Artikel

14,706 comments

Oleh : E. Aminudin Aziz

Abstrak

 Sebagai alat komunikasi yang paling vital, bahasa, ketika digunakan, dapat dijadikan media yang efektif bagi para partisipan untuk saling memperkenalkan dan menafsirkan keunikan budayanya masing-masing. Upaya menafsirkan budaya tersebut sering kali membawa petaka, bahkan kadang-kadang menjurus pada pengkarakteran seseorang (character stereotyping). Hal ini timbul karena penafsir mengukur baju orang lain dengan ukurannya sendiri. Makalah ini akan menyajikan pandangan tentang hakikat komunikasi lintas budaya, beberapa penyebab petaka komunikasi lintas budaya dan beberapa contoh tentang realisasi pertuturan dari berbagai budaya berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan selama ini. Implikasi bagi pengajaran berbahasa disajikan pada bagian akhir makalah ini. || Read more

posted by on Artikel

13,310 comments

Oleh : E Aminudin Aziz

Abstract

 There are various strategies used by people to show politeness in their language exchange, all of which are largely determined by the level of a speaker’s perception about the potential risk of losing face resulted from his/her utterance. The provision of responses other than refusals to a request directed to a speaker at times his/her circumstances actually pressure him/her to make a refusal or refusing the request indirectly accompanied by a number of politeness markers can be regarded as examples of the speaker’s strong willingness to maintain the (existing) harmony with the requestor. In this paper, I will show how indirectness has become the norm for Indonesians when making refusals. This is clearly contrary to the claim made by non-Indonesians which often regard such a behavior as a sign of uncooperativeness and impoliteness. It appears that there are a number of cultural norms and values that govern their linguistic politeness behaviors which I shall formulate in a Principle of Mutual Consideration (PMC). Being a refinement to Grice’s (1975) CP and to Leech’s (1983) PP, PMC assumes three levels of politeness: pre-communicative politeness, on the spot politeness, and post-communicative politeness.

|| Read more

posted by on Artikel

13,578 comments

Oleh : E. Aminudin Aziz

Abstract

The study reported here is based on an ethnographic investigation on the Chinese perceptions about the traditional concepts mianzi/lian “face” as they are currently confronted with the so-called universal values as a result of globalisation. Data were collected from 100 Shanghainese through direct observations and semi-structured interviews and were then analysed by using the Chinese cultural notions underlying the concepts of face. These include relational, communal, hierarchical, and moral. Analyses show that the respondents often avoid conflicts with their interlocutors, even if they were put in very unfortunate circumstances. These face-favouring acts are indicative of their closed observance of the norms and hence the concepts of face, by which they could gain, maintain, and enhance their own face. In return, they would be regarded as members of the society with polite behaviours and with other good moral characters. The study concludes that although China is changing, the conceptions and practices of the traditional concepts mianzi/lian “face” among Chinese have remained constant. This is because into these concepts are attached the most basic concepts of humanity; the absence of the concepts of face in the mind of human beings can mean the loss of humanity as a whole.

  || Read more

posted by on Artikel

12,058 comments

Paper Presented at the 5th CESA Biennial Conference held at Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi Malaysia, 30-31 May 2005

By E. Aminudin Aziz

Abstract

The study reported here is based on an ethnographic investigation on the Chinese perceptions about the traditional concepts mianzi/lian “face” as they are currently confronted with the so-called universal values as a result of globalisation. Data were collected from 100 Shanghainese through direct observations and semi-structured interviews and were then analysed by using the Chinese cultural notions underlying the concepts of face. These include relational, communal, hierarchical, and moral. Analyses show that the respondents often avoid conflicts with their interlocutors, even if they were put in very unfortunate circumstances. These face-favouring acts are indicative of their closed observance of the norms and hence the concepts of face, by which they could gain, maintain, and enhance their own face. In return, they would be regarded as members of the society with polite behaviours and with other good moral characters. The study concludes that although China is changing, the conceptions and practices of the traditional concepts mianzi/lian “face” among Chinese have remained constant. This is because into these concepts are attached the most basic concepts of humanity; the absence of the concepts of face in the mind of human beings can mean the loss of humanity as a whole.

  || Read more

posted by on Artikel

11,391 comments

Oleh : E. AMINUDIN AZIZ

 RINGKASAN

Secara umum, penelitian ini ditujukan untuk mengungkap persepsi masyarakat Cina moderen di tengah-tengah  tatanan dunia yang sedang berubah, tentang konsep tradisional “wajah” (mianzi/lian) yang diturunkan dari ajaran Kong Fu’ Tzu. Secara khusus, penelitian ini mengungkap bagaimana persepsi tersebut tercermin dalam pola komunikasi antarpersonal mereka. Seorang penutur dipandang telah memperhatikan “wajah” mitra tuturnya apabila dia telah —dan terus— berupaya mengembangkan strategi komunikasi yang pada akhirnya menjadikan mitra tutur merasa yakin bahwa dia adalah penutur yang santun. Inilah isu yang menjadi fokus penelitian ini. || Read more

posted by on Artikel

13,910 comments

Oleh : E. Aminudin Aziz

Abstrak

Penelitian ini, secara umum, ditujukan untuk mengetahui persepsi masyarakat Cina moderen terhadap konsep tradisional Confucianism tentang wajah (lian atau mianzi). Secara khusus, penelitian ini mengungkap bagaimana persepsi tersebut tercermin dalam pola komunikasi antarpersonal mereka. 100 orang Shanghai terlibat dalam penelitian ini, 50 orang diambil dari daerah perkotaan dan 50 orang dari pedesaan. Mereka merepresentasikan berbagai latar belakang sosial yang berbeda, meliputi usia, jenis kelamin, tempat tinggal, dan pekerjaan. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis dengan menggunakan kerangka ajaran Confucianism tentang sifat-sifat yang mendasari konsep wajah. Sifat-sifat itu meliputi relasional, komunal/sosial, hirarkis, dan moral. Analisis data menunjukan bahwa dalam keseluruhan interaksi berbahasanya, para responden sangat memperhatikan nilai-nilai yang terkandung dalam konsep wajah seperti terkandung dalam Confucianism. Diketahui bahwa dari keempat sifat wajah itu, integritas moral de menjadi acuan paling penting untuk menilai apakah seseorang itu masih memiliki wajah atau justru sebaliknya. Hilangnya moralitas berarti hilangnya sifat-sifat manusiawi pada seseorang.

  || Read more

posted by on Artikel

14,614 comments

Oleh : E. Aminudin Aziz & Iwa Lukmana

Abstrak

Masalah yang timbul dalam komunikasi lintas budaya dapat bersumber dari ketidakpahaman para peserta komunikasi akan aturan main yang berlaku dalam bahasa yang dipakai untuk komunikasi tersebut. Potensi kemunculan masalah dapat meningkat apabila komunikasi melibatkan penutur asli dengan non-penutur asli. Salah satu aspek yang sangat berpotensi untuk menjadi sumber kesalahpahaman di antara para peserta tutur adalah pola realisasi pertuturan.

Tulisan ini melaporkan hasil kajian terhadap kewajaran komunikasi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing dalam realisasi pertuturan meminta, menolak, dan memohon maaf. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi realisasi tiga jenis pertuturan tersebut, menakar tingkat kewajarannya, dan mengkaji variabel-variabel sosial yang melatarbelakanginya. Ditemukan bahwa pola-pola pertuturan yang dihasilkan para responden secara umum telah memenuhi kriteria kesantunan. Adapun variabel sosial yang paling mempengaruhi realisasi pertuturan para responden adalah hubungan keakraban antara penutur dengan mitra tuturnya, diikuti oleh kekuasaan relatif penutur terhadap mitra tuturnya dan tingkat imposisi sebuah pertuturan. Berdasarkan temuan dari penelitian ini, diajukan beberapa saran, baik yang bersifat teoritis-metodologis maupun praktis.

|| Read more

posted by on Artikel

11,035 comments

Oleh : E. Aminudin Aziz

Abstrak

Makalah ini akan membahas faktor-faktor sosiolinguistik dalam realisasi kesantunan pertuturan orang Sunda. Data diperoleh dari hasil studi yang ditujukan untuk mengungkap realisasi kesantunan orang Sunda ketika mereka dihadapkan pada situasi yang akan memaksa mereka melakukan penolakan (Aziz 1996, 2000). Kedua studi tersebut menggunakan angket isian wacana sebagai alat pengumpulan data, yang diikuti oleh wawancara dengan sejumlah partisipan yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam merealisasikan pertuturan penolakan, Ki Sunda cenderung memilih cara yang lebih lembut, tidak konfrontatif, dan senantiasa diikuti oleh ungkapan basa-basi. Menurut kacamata orang Sunda, cara-cara tersebut adalah strategi terbaik untuk menjaga keharmonisan komunikasi dan hubungan pribadi antara dirinya dengan mitra tuturnya. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor sosiolinguistik yang terlibat dalam proses pertuturan tadi dan disadari penuh oleh penuturnya sebagai seperangkat nilai yang melandasi prilaku komunikasi mereka. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan sebagai prinsip saling tenggang rasa. Analisis terhadap faktor-faktor sosiolinguistik seperti perbedaan jarak sosial antara penutur dan mitra tutur, tingkat kewenangan relatif penutur terhadap mitra tutur, perbedaan usia penutur dari mitra tutur, perbedaan jenis kelamin, yang masing-masing diduga mempengaruhi realisasi kesantunan sebuah pertuturan, menunjukkan bahwa faktor perbedaan usia merupakan variabel yang paling menentukan realisasi kesantunan Ki Sunda. Dalam masyarakat Sunda, diyakini bahwa seorang penutur yang tidak mempertimbangkan masalah senioritas dalam pertuturannya dianggap telah melakukan kecerobohan komunikasi yang sangat fatal. Hal ini berbeda dari kelompok masyarakat lain yang misalnya lebih menghargai perbedaan kasta, keturunan, jabatan formal, jenis kelamin, dan sebagainya ketimbang faktor-faktor lainnya.

  || Read more

posted by on Artikel

14,049 comments

Oleh : E. Aminudin Aziz

Abstrak

Secara faktual, masyarakatIndonesiasebenarnya adalah masyarakat yang sudah sejak lama menganut sistem dwi- bahkan multibahasa. Di samping fasih menggunakan bahasa ibu/pertama, kebanyakan anggota masyarakat diIndonesiajuga piawai menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing seperti Inggris, Arab, Belanda, dan sebagainya. Akan tetapi, justru baru akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang pelaksanaan pendidikan kedwibahasaan tersebut, terutama seiring dengan maraknya program pengajaran bahasa asing (baca: Inggris) di pendidikan tingkat rendah, baik pra-sekolah maupun sekolah dasar. Fokus pembicaraan biasanya melingkar di seputar kekhawatiran orang tua (bahkan juga para guru) bahwa pelaksanaan pendidikan bahasa asing pada tingkat rendah tersebut akan mengganggu proses perkembangan kebahasaan, terutama bahasa ibu, para siswa yang memang belum stabil. Akibatnya, perkembangan intelektual para siswa pun dikhawatirkan menjadi tidak optimal. Kekhawatiran tersebut sangat wajar mengingat data tentang pelaksanaan pengajaran bahasa asing/Inggris di sekolah-sekolah menengah kita sampai saat ini masih menunjukkan kepada sisi-sisi ketekberhasilan proses belajar-mengajar yang terjadi selama ini. Makalah ini menyajikan pemikiran tentang manfaat pendidikan kedwibahasaan yang diberikan sejak dini kepada para siswa. Lebih dari itu, pada makalah ini akan dibeberkan sejumlah prinsip dari model pendekatan pragmatik yang dapat diterapkan guru bahasa asing di sekolah dalam melaksanakan program pendidikan kedwibahasaan untuk mengembangkan kompetensi berbahasa siswa-siswanya. Prinsip-prinsip itu dikembangkan dalam kerangka berfikir bahwa fungsi utama bahasa adalah untuk menyampaikan maksud dalam konteks-konteks tertentu.

  || Read more